Tampilkan postingan dengan label Pengurus Koperasi. Tampilkan semua postingan

7 Kriteria Pengurus Koperasi yang Ideal

Pemimpin yang (hanya) bermodalkan popularitas adalah pemimpin yang berbahaya. Justru disitulah letak kelemahan kebanyakan koperasi. Dengan prinsip koperasi satu orang satu suara, yang kebanyakan diartikan sebagai voting. Pengurus yang terpilih adalah orang yang paling banyak mendapat suara. Yang paling populer, dan belum tentu yang paling kompeten atau paling berpengalaman.

Berapa banyak koperasi yang menyelenggarakan pemilihan pengurus dengan menyelenggarakan fit and proper test terlebih dahulu? Dimana ada sekelompok orang yang independen dan ahli menilai kecakapan calon pengurus, sejauh mana integritasnya, keahlian memimpin, jiwa kewirausahaannnya, kemampuan manajerial dan pengetahuan tentang koperasi. Pengurus adalah top managementnya koperasi, CEO nya koperasi. Jika memilih CEO sudah dilakukan sembarangan, tanpa ada fit and proper test, jangan harap organisasi bisa melesat cepat. Setidaknya ada beberapa kriteria yang perlu dimiliki oleh calon pengurus koperasi agar dirinya layak dipilih menjadi pengurus. Antara lain :

1. Berani
Sejauh mana pengurus berani mengambil resiko? Jangan memilih orang yang hanya cari aman untuk jadi pengurus koperasi. Bisa stagnan koperasinya. Bisnis erat kaitannya dengan resiko, siapa yang tidak berani mengambil resiko, jangan berbisnis. Siapa yang tidak bisa berbisnis, jangan dipilih menjadi pengurus.

Sejauh mana pengurus berani mengkonfrontasi orang-orang yang menghalangi perkembangan koperasi? Untuk berkembang, koperasi perlu berubah. Dan dalam perubahan pasti ada orang-orang yang menentang, orang-orang yang berdiri menghalangi di tengah jalan mencapai tujuan. Apakah pengurus berani menghadapi orang-orang seperti itu? Jika tidak berani, jangan pilih orang tersebut sebagai pengurus.

Sejauh mana pengurus berani menghadapi kritikan dan cemoohan orang lan? Jangan memilih pengurus yang ragu-ragu mengambil keputusan hanya karena banyak orang tidak suka. Jika suatu keputusan sudah dipertimbangkan dengan matang, dan itu benar adalah untuk kepentingan koperasi. Meskipun mendapat kritikan dan cemoohan, pengurus harus tetap maju. Berani menghadapi kritikan dari orang-orang yang kurang mengerti. Seorang pemimpin harus berani untuk tidak populer. Karena pastinya akan banyak keputusannya yang efeknya baru dinikmati jangka panjang. Orang-orang yang mengkritik ini biasanya yang mau segala sesuatunya instant, langsung terlihat hasilnya. Padahal kan membangun koperasi supaya besar tidak bisa hanya dengan satu atau tiga tahun.

2. Punya integritas yang tinggi
Integritas berarti walk the talk and talk the walk. Melakukan apa yang ia katakan dan mengatakan apa yang ia lakukan. Bukan cuma orang yang omdo (omong doang) atau NATO (No Action Talk Only). Orang yang punya prinsip dan nilai yang dipegang teguh. Orang lain tahu karakter orang tersebut jika menghadapi tekanan seperti apa, jika menghadapi masalah seperti apa. Orang yang tidak mudah terombang-ambing oleh issue atau pendapat mayoritas.

Biasanya orang yang religius, dekat dengan Allah, rajin shalat berjamaah tepat waktu di masjid itu bisa jadi indikator bahwa orang tersebut punya integritas. Mengapa? Karena kalau prinsip agama sudah dipegang dengan kuat, insyaallah prinsip-prinsip yang bagus seperti prinsip sabar, bersyukur, ikhlas udah ada di dalam agama semua. Sebaliknya orang yang tidak mengamalkan agama dengan benar, jangankan amanah dari manusia, amanah dari Tuhannya saja tidak dijlankan dengan baik.

3. Berjiwa wirausaha
Berjiwa wirausaha identik dengan tahan banting, kreatif, mandiri, tidak mudah putus asa. Pilihlah pengurus yang jika memungkinkan punya pengalaman membangun bisnisnya sendiri. Pilihan terakhir adalah pengurus yang seumur hidup jadi orang gajian, agak sulit untuk menjadikan orang seperti ini untuk jadi pengurus. Minimal perlu diikutkan workshop dan pelatihan kewirausahaaan.

Menjadi seorang wirausahawan memang bukan panggilan hidup semua orang, memang ada beberapa orang yang panggilan hidupnya menjadi karyawan. Menjadi seorang wirausahawan dan memiliki jiwa wirauaha itu hal yang berbeda, seseorang yang berstatus karyawan bisa saja memiliki jiwa wirausaha, memiliki karakteristik seorang wirausahawan. Sebaliknya seorang pemilik usaha juga belum tentu orang yang memiliki jiwa wirausaha, bisa jadi ia membuka usaha tersebut karena tidak ada pilihan lain, atau usahanya adalah warisan keluarga, dan punya usaha tapi tidak berkembang. Orang seperti itu memang punya usaha sendiri tapi belum bisa disebut punya jiwa wirausaha.

Jiwa wirausaha itu bukan bakat atau bawaan yang dimiliki orang tertentu saja. Jiwa wirausaha bisa dipelajari dan dipupuk. Karenanya jika memang pilihan pengurus tidak ada yang berjiwa wirausaha, maka pilihlah orang-orang yang memiliki karakter pembelajar. Kalaupun pengurus belum memiliki jiwa wirausaha, ia dapat belajar.

4. Berjiwa pemimpin
Pengurus adalah pimpinan tertinggi di koperasi, satu level dengan CEO dan Direktur Utama suatu perusahaan. Dan koperasi adalah perusahaan juga. Maju mundurnya suatu peruashaan sebagian besar terletak pada eksekutif tertingginya. Kemajuan perusahaan salah satunya terletak pada kemampuan sang eksekutif tertinggi untuk mengelola sumber daya yang ada secara benar. Sumber daya apa yang paling penting bagi sebuah organisasi? Tidak lain adalah manusianya. Dan bagaimana mengelola sumber daya manusia yang paling efektif? Adalah dengan memimpin. Bukan sekedar menyuruh atau memerintah. Pengurus must know how to lead effectively.

Secara struktural, di bawah pengurus ada pengelola koperasi. Pengelola koperasi lah yang menjalankan sebagian besar bisnis dan operasional koperasi, lebih dari 90% jalannya roda koperasi ada di pengelola. Bisa dianalogikan pengurus dan pengelola adalah seperti supir dan mobilnya. Supir yang hebat membutuhkan mobil yang hebat, begitu pula sebaliknya. Supir yang piawai dengan mobil yang payah hanya akan membuat repot dan frustasi si supir. Sebaliknnya, mobil canggih dengan supir yang asal supir akan menyia-nyiakan potensi yang ada di mobil, fitur-fitur yang canggih menjadi tidak berguna, dan ketika mobil tersebut mengalami masalah si supir tidak mampu menanganinya.

Seorang pengurus ibarat seorang supir. Ia harus tahu karakteristik mobil yang ia kendarai, tahu apa saja fitur-fiturnya, mengunakan fitur tersebut dengan semaksimal mungkin, memperhatikan pemeliharaan kendaraannya. Seorang supir yang baik tahu bahwa semakin canggih sebuah mobil semakin tinggi biaya pemeliharaannya, semakin si supir dituntut untuk lebih perhatian. Intinya seorang pengurus bukanlah seseorang yang dituntut harus tahu segalanya tentang seluk beluk pengelolaan koperasi, pengurus adalah seseorang yang bisa memimpin orang lain agar bisa mengelola koperasi dengan benar.

Kepemimpinan punya dasar-dasar, prinsip-prinsip dan gaya kepemimpinan yang macam-macam. Itu yang harus dimiliki oleh pengurus koperasi.

5. Punya kemampuan manajerial
Koperasi sekarang ini tidak bisa asal kelola, tidak bisa asal jalan. Kalau prinsipnya masih seperti itu, tergusur sudah koperasi dengan perusahaan-perusahaan swasta. Membuka minimarket jangan sekedar buka minimarket, jangan hanya sebagai syarat 'disini ada koperasi'. Membuka minimarket harus tahu ilmunya, ada yang namanya manajemen retail. Bagaimana mencari pemasok, bagaimana mengelola saluran distribusi, bagaimana menata barang dagangan, pricing, promosi, customer service dan lain-lain.

Mengurus koperasi pun seperti itu, jangan asal mengurus tanpa ada ilmunya. Ada yang namanya ilmu manajemen, bagaimana caranya merencanakan sesuatu agar efektif, bagaimana mendelegasikan, bagiamana membagi perusahaan kedalam fungsi-fungsi kerja, dan lain-lain. Sangat menguntungkan sekali jika ada kandidat pengurus yang memiliki latar belakang manajemen. Namun jika pilihan kandidat pengurus yang ada tidak ada yang berlatar belakang manajemen, maka sekali lagi pilihlah pengurus yang punya karakeristik pembelajar. Agar ia dapat mempelajari ilmu manajemen.

6. Mengerti tentang perkoperasian
Adakah pengurus yang tidak tahu tujuan dan prinsip koperasi? Banyak. Mengapa saya bilang begitu, karena umumnya pengurus hanya berfokus pada cara mengembangkan dan membesarkan koperasi, dari segi finansial. Tanpa memperhatikan jiwa dari koperasi. Pengurus yang seperti ini akan membawa koperasi tidak bedanya dengan perusahaan-perusahaan swasta,   hanya bertujuan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.

Tujuan koperasi adalah mensejahterakan anggota dan masyarakat. Pengurus harus bertanya 'apa kontribusi koperasi saya dalam mensejahterakan anggota? Apa kontribusi koperasi saya dalam mensejahterakan masyarakat?' Prinsip koperasi salah satunya adalah 'kemandirian'. Pengurus harus bertanya 'Apakah hidup koperasi masih bergantung pada pihak tertentu yang bukan anggota? Jika jawabannya iya, maka koperasi belumlah mandiri. Dan pengurus perlu mengambil langkah-langkah agar prinsip kemandirian koperasi dapat dijalankan.

Kalau pengurus saja tidak paham mengenai koperasi, bagaimana bisa mengharapkan anggota paham mengenai koperasi. Padahal kepahamaan anggota terhadap prinsip dan nilai koperasi adalah hal yang vital, yang membuat koperasi menjadi koperasi.

7. Punya keahlian interpersonal yang baik
Pendidikan perkoperasian adalah salah satu prinsip koperasi. Sasaran pendidikan ini terutama adalah anggota, karena anggota lah secara bersama-sama yang menentukan jalannya koperasi. Pendidikan perkoperasian ini tidak dilakukan dengan sekali atau beberapa kali memberikan penyuluhan atau seminar umum. Pendidikan koperasi akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan personal dan berangsur-angsur. Mendekati dan memberikan pemahaman tentang koperasi kepada orang per orang, kelompok per kelompok. Disinilah peran keahlian interpersonal. Bagaimana pengurus dapat memengaruhi para anggota koperasi untuk bersama-sama memajukan koperasi.

Dari ke tujuh kriteria di atas, populer tidak masuk diantaranya. Karena kualitas 'populer' tidak mesti positif. Bisa saja seseorang populer karena terkenal dengan sikap negatifnya. Bisa saja seseorang populer karena cuma banyak omong atau sekedar pandai membangun citra tapi isinya kosong. Popularitas bukanlah kriteria yang harus dicari, popularitas hanyalah konsekuensi dari prestasi.

Anggota harus lebih jeli dalam memilih pengurus, pilihalah berdasarkan kualitas individu bukan popularitas. Karena koperasi dijalankan dengan mengandalkan kualitas seseorang, keberaniannya, integritas, semangat wirausaha, kepemimpinan, kemampuan manajerial, pemahaman terhadap koperasi dan kemampuan intrapersonal. Bukan dengan modal terkenal. Panitia pemilihan pengurus pun harus benar-benar melakukan seleksi, jangan hanya sekedar voting, harus ada fit and proper test. Jadi calon-calon yang diajukan menjadi pengurus dalam rapat anggota adalah benar-benar calon yang sudah teruji kualitasnya.

Keseriusan suatu organisasi untuk berkembang ditandai dengan keseriusan dalam memilih pimpinan tertingginya. Sudahkan koperasi saudara memilih pengurus dengan serius berdasarkan kualitas, tidak hanya berdasarkan popularitas. Jadilah koperasi yang serius, yang maju dan berkembang, jangan jadi koperasi ecek-ecek.

kontributor : Rizki Ardi

Koperasi Ingin Besar! Berani Bayar Mahal


Mengenai koperasi, ada hal yang mengganjal di hati saya. Koperasi itu banyak tapi mengapa kebanyakan ukurannya kecil-kecil. Jarang ada koperasi yang beromset puluhan milyar per tahun. Bahkan jika koperasi Anda berhasil melampaui omset 10 milyar per tahun mungkin sudah dikatakan hebat. Dalam perenungan, saya menemukan sedikit pencerahan. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa koperasi di Indonesia skalanya kecil-kecil. Bahkan saya baru menyadari suatu hal yang lucu. Bahwa Kementrian Koperasi digabung dengan Kementrian Usaha Kecil dan Menengah. Seolah tugas negara membina koperasi tidak jauh beda dengan tugas membina usaha kecil dan menengah.

Saya suka berpikir dengan logika, mesikpun tidak selamanya logika dapat diandalkan. Begini, Anda punya usaha warung baso dengan satu kedai, kemudian usaha Anda berkembang dan sekarang memiliki lima kedai baso. Lebih repot mana, dulu waktu baru punya satu kedai atau sekarang setelah punya lima kedai? Tentu lebih repot sekarang yang punya lima kedai. Walaupun logikanya pendapatan pasti lebih banyak dibanding dahulu yang hanya punya satu kedai. Kemudian pertanyaan lagi, Anda lebih memilih mana. Punya satu kedai bakso dengan penghasilan memadai namun tidak begitu repot dan masih punya banyak waktu untuk pribadi dan keluarga. Atau punya lima kedai baso dengan penghasilan lima kali lipat, namun harus repot dan banyak tersita waktunya untuk mengurusi kedai bakso.

Jawaban Anda pasti berbeda-beda. Ada yang lebih condong pada kenyamanan dan waktu luang, ada yang lebih condong pada penghasilan yang lebih besar. Tidak ada jawaban singkat mengenai mana yang salah dan mana yang benar. Bisa panjang jika didiskusikan disini. Lalu apa hubungannya dengan koperasi? Lantas apa hubungannya juga dengan judul di atas? Begini, mengurus koperasi dan mengurus usaha sendiri itu berbeda. Jika mengurus usaha sendiri, semakin besar usahanya, semakin repot, semakin besar juga uang yang masuk ke kantong kita, sepadan dengan pengorbanan yang dilakukan. Betul kan? Kalau di koperasi, semakin besar koperasinya, semakin repot, belum tentu uang yang masuk ke kantong tambah besar nilainya, atau setidaknya tidak proporsional antara imbalan yang didapat dari mengurus koperasi dengan perkembangan koperasi itu sendiri.

Contoh kasus; Koperasi sebelum menjadi besar, SHU nya baru 100 juta, pengurus diberi jatah 5% dari SHU, atau sebesar 5 juta. Menurut anggota 'nilai segitu ya wajar buat mengurus koperasi selama satu tahun'. Lalu beberapa tahun kemudian pengurus berhasil mengelola koperasinya sedemikian rupa hingga SHU nya mencapai 1 milyar, pengurus dapat 50 juta dong, 5% dari SHU! Belum tentu. Ternyata anggota berpendapat 'masa ngurus koperasi segitu doang dapet 50 juta, gede amat!', tidak rela orang lain mendapat bagian besar. Padahal mengurus koperasi tidak 'segitu doang'. Banyak resiko, tanggung jawab, beban amanah yang harus ditanggung. Akhirnya jatah pengurus 5% dikorting menjadi 2,5% dalam rapat anggota, macam zakat untuk fakir miskin saja. Akibatnya pengurus tadi kapok membesarkan koperasi. Kerja cape-cape, repot-repot, pas berhasil malah penghasilannya dipotong.

Ini berlaku juga untuk pengelola koperasi, dimana penghasilan manajer koperasi skala menengah bisa kalah dengan penghasilan staf di perusahaan skala besar. Permasalahannya ada pada ketimpangan antara tanggung jawab, tugas, beban kerja; dan penghasilan yang didapatkan oleh mereka yang mengurus dan mengelola koperasi. Bagaimana Anda mau mendapatkan manajer profesional jika Anda hanya mau mengeluarkan uang kurang dari 100 juta per tahun? Bagaimana Anda mau pengurus serius mengembangkan koperasi, jika setelah koperasi berkembang, jatah SHU untuk pengurus justru diturunkan?

Jadi jika Anda sebagai anggota koperasi, jangan pelit-pelit memberikan kompensasi yang memadai untuk pengurus dan pengelola koperasi atas jasanya membesarkan koperasi. Jika Anda pengurus dan pengelola, maka tugas Anda lah untuk melakukan pendidikan kepada anggota. Membuat anggota melihat berapa kompensasi wajar yang pantas diberikan untuk mengurus dan mengelola koperasi. Mengajak anggota untuk melihat pengelolaan koperasi yang selama ini dianggap 'segitu doang'.

kontributor : Rizki Ardi

Apa yang Harus Dilakukan Pengurus Baru Koperasi

Apakah Anda pernah atau sedang menjabat sebagai pengurus koperasi? Bagaimana perasaan Anda ketika pertama kali menjabat sebagai pengurus koperasi? Bingung, tidak tahu apa yang mesti dikerjakan, tidak tahu mulai dari mana! Atau bekerja hanya berbekal insting dan logika?

Segala sesuatu ada ilmunya, begitupun menjadi seorang pengurus koperasi. Apalagi pengurus koperasi mendapat amanah dari anggota yang sekian banyak jumlahnya. Jangan sampai anda asal ngurus, yang bisa-bisa berujung pada salah urus. Insting dan logika itu perlu, tapi harus dibarengi dengan ilmu. Lalu apa saja langkah yang harus dilakukan oleh pengurus koperasi yang baru dilantik? Inilah hal-hal yang seharusnya diagendakan oleh pengurus baru :

1. BELAJAR
Kecuali jika pengurus baru memang sudah berpengalaman di koperasi, pernah menjadi pengurus di koperasi lain. Agenda utama Anda sebagai pengurus baru adalah BELAJAR! Apa yang harus dipelajari, belajar kepada siapa dan bagaimana? Akan dijelaskan dibawah ini:

Apa yang harus dipelajari ?
  • Perkoperasian (peraturan pemerintah tentang perkoperasian, filosofi koperasi )
  • Peraturan intern koperasi (anggaran dasar, anggaran rumah tangga, peraturan intern)
  • Rencana strategis koperasi (visi, misi, nilai, tujuan, rencana jangka panjang)
  • Rencana kerja dan rencana anggaran tahun berjalan (yang biasanya disusun oleh kepengurusan sebelumnya)
  • Sistem kerja (manajemen, keuangan, akuntansi, pajak, SDM, GA, bisnis)
  • Kepemimpinan (bagaimana membangun kepercayaan, bagaimana membangun teamwork, bagaimana memunculkan engagement)
Jadi, memimpin dan mengelola koperasi itu tidak asal, perlu ada ilmunya. Dan ilmu didapatkan tidak lain melalui belajar. Jika Anda sebagai pengurus baru tidak meluangkan waktu dan pikiran untuk belajar bagaimana mengelola koperasi maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Anda orang yang sudah sangat ahli di bidang perkoperasian, Kedua, Anda orang yang ignorant (tidak tahu kalau dirinya tidak tahu)

Kepada siapa harus belajar?
  • Pengurus yang lama
  • Manajer dan pengelola koperasi
  • Dinas koperasi setempat
  • Studi banding ke koperasi lain
  • Membaca buku, referensi atau artikel-artikel di internet
  • Konsultan koperasi
Intinya belajar kepada siapapun yang menurut kita mempunyai ilmu yang memang kita butuhkan. Meskipun orang tersebut orang yang lebih muda atau bawahan Anda, tidak ada salahnya. Bahkan jika Anda berani belajar kepada bawahan Anda, justru Anda akan lebih dihargai dan menjadi contoh sebagai seorang pembelajar bagi para bawahan Anda.

Bagaimana cara belajarnya?
  • Memberikan waktu bagi manajer untuk mempresentasikan sistem kerja yang sudah berjalan, peraturan-peraturan intern yang sudah ada di koperasi
  • Sharing dengan manajer koperasi atau pengurus lama mengenai pengalamannya mengelola koperasi
  • Meluangkan waktu untuk melakukan studi banding ke koperasi lain dan kunjungan ke dinas koperasi
  • Meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan atau workshop mengenai koperasi
  • Meluangkan waktu untuk membaca buku dan artikel mengenai pengelolaan koperasi
Anda sebagai pengurus pasti punya kesibukan tersendiri selain mengurus koperasi. Proses belajar ini mau tidak mau menuntut pengurus untuk meluangkan waktu (bukan menunggu waktu luang). Cara meluangkan waktu misalnya dengan berkomitmen meluangkan beberapa jam per minggu khusus untuk belajar mengenai koperasi, mengambil cuti untuk melakukan studi banding dan kunjungan, merelakan waktu di akhir pekan untuk mengikuti pelatihan, dan lain-lain. Intinya jika memang keinginannya kuat untuk belajar pasti akan ada jalan. Sebaliknya jika memang tidak ada keinginan untuk belajar, pasti ada saja alasan yang dikemukakan.

Bahkan bagi seorang yang sudah berpengalaman di koperasi sekalipun, ketika ia mendapat mandat untuk menjadi pengurus yang baru di sebuah koperasi. Pasti ada hal-hal yang ia tidak ketahui yang perlu ia pelajari.
2. MENYUSUN RENCANA STRATEGIS
Banyak koperasi yang belum memiliki rencana strategis, bahkan tidak tahu rencana strategis itu apa. Rencana strategis merupakan perencanaan jangka panjang dan menyeluruh bagi suatu organisasi. Rencana strategis biasanya terdiri dari visi, misi, tujuan, nilai, rencana jangka panjang, strategi. Rencana strategis adalah blueprint suatu organisasi supaya organisasi tersebut berjalan dengan tujuan, tidak berjalan tanpa arah. Jika rencana strategis ini sudah tersusun maka pengurus baru hanya tinggal melanjutkan apa yang sudah digariskan dalam rencana strategis. Tugas pengurus baru hanyalah mengeksekusi rencana tersebut sesempurna mungkin dan melakukan controlling terhadap rencana dan realisasi. 
Koperasi yang tidak memiliki rencana strategis cenderung arah kebijakannya berubah-ubah seiring berubahnya kepengurusan. Sehingga usaha yang telah dirintis di kepengurusan sebelumnya bisa jadi berhenti di kepengurusan selanjutnya karena pengurus yang baru punya kebijakan tersendiri. Dengan adanya rencana strategis, usaha yang dibuat oleh setiap kepengurusan akan terus terakumulasi. Jadi, jika koperasi belum mempunyai rencana strategis. Maka tugas pengurus baru yang terpenting adalah menyusun rencana strategis. Pengurus adalah eksekutif tertinggi di koperasi yang tugasnya mengurusi hal-hal yang sifatnya strategis, keseluruhan, jangka panjang. Biarkan masalah-masalah operasional, harian, taktis lebih banyak di tangani oleh pengelola dan karyawan. Pengurus hanya berperan sebagai konsultan dan pengambil keputusan  penting.
Lalu bagaimana menyusun rencana strategis? Bisa panjang jika dijelaskan secara rinci di tulisan ini. Alternatifnya pengurus bisa:
Rencana strategis yang telah tersusun harus disahkan pada rapat anggota, sehingga rencana strategis yang ada punya kekuatan mengikat dan tidak bisa diubah seenaknya oleh pengurus berikutnya.
3. MEMBANGUN KEPERCAYAAN
Butuh waktu panjang untuk membangun kepercayaan, karenanya ada baiknya dimulai sesegera mungkin. Yaitu di waktu awal jabatan sebagai pengurus. Kepercayaan yang harus didapatkan oleh Anda sebagai pengurus baru adalah kepercayaan dari pengelola, karyawan, anggota dan pihak terkait. Kepercayaan adalah modal dasar bagi seorang pemimpin. Bagaimana pengurus dapat menjalankan tugasnya dengan efektif jika pengelola yang menjadi kaki tangan pengurus tidak percaya terhadap keputusan, kebijakan bahkan pribadi pengurus itu sendiri. Pengelola dan karyawan koperasi merupakan pihak pertama yang harus didapatkan kepercayaannya. Lantas bagaimana cara membangun kepercayaan? Pemimpin-pemimpin besar membangun kepercayaan bawahannya melalui:

Peduli terhadap bawahannya
Apa bentuk kepedulian tersebut? Dengan memenuhi hak-hak tenaga kerja sebagaimana diatur oleh pemerintah, memberikan kompensasi tambahan diluar kompensasi wajib yang harus diberikan perusahaan, memberikan feedback (terutama feedback positif), mau mendengarkan, peduli terhadap masalah yang dihadapi karyawan (bukan hanya masalah pekerjaan, namun pribadi juga jika diperlukan), menjenguk karyawan yang sakit atau mendapat musibah, dan banyak contoh kepedulian lainnya. Intinya memperlakukan karyawan bukan hanya sebagai pekerja, tapi juga sebagai manusia. Dan perhatian ini sifatnya tidak boleh partial, karena justru bisa membahayakan. Jangan sampai memperhatikan sebagian orang atau kelompok, lantas mengabaikan orang atau kelompok yang lain.

Punya Integritas
Ada yang mengartikan integritas sebagai walk the talk. Yaitu melakukan hal yang dikatakan. Jadi pemimpin yang mau membangun kepercayaan bukanlah pemimpin yang omdo (omong doang) atau nato (no action talk only). Pemimpin yang ingin membangun kepercayaan bukanlah pemimpin yang menyuruh bawahannya untuk bersikap tertentu, tapi ia tidak mencontohkan. Jika pemimpin ingin bawahannya disiplin, kreatif, pembelajar, loyal, sopan, cekatan dan lainnya maka pemimpin lah yang pertama kali mencontohkan hal tersebut. Action talk louder than words, tingkah laku pemimpin, dalam hal ini pengurus menjadi cerminan bagi bawahannya, pengelola dan karyawan koperasi dalam bertindak. Jika pengurus enggan belajar, jangan harapkan koperasinya punya budaya pembelajar.

Kompeten
Pengurus tentunya tidak harus menguasai detail semua pekerjaan yang ada di koperasi, itu tidak perlu dan sulit dilakukan. Tapi pengurus perlu tahu semua pekerjaan yang ada di koperasi, perlu mempunyai skill manajemen, perlu menguasai skill kepemimpinan. Bahkan lebih baik lagi jika pengurus dapat mencontohkan bagaimana melakukan sesuatu. Tidak hanya menuntut bawahannya untuk bisa ini dan itu sementara ia sendiri tidak bisa atau tidak mau ikut belajar. Jangan jadi pengurus yang hanya bisa nyuruh-nyuruh, jadilah pengurus yang bisa memberi contoh. Buktikan kompetensi Anda dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu di depan pengelola dan karyawan, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan. 
4. MENGULAS DAN MENGUBAH (JIKA PERLU) RENCANA KERJA (RK) DAN RENCANA ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA (RAPB) TAHUN BERJALAN

RK dan RAPB tahun berjalan merupakan produk dari pengurus lama, tapi Anda sebagai pengurus baru yang harus menjalaninya. Ada kalanya perencanaan pengurus lama tidak sesuai dengan pengurus baru. Karenanya sesegera mungkin RK dan RAPB di ulas dan diperbarui sesuai dengan visi dan kesanggupan pengurus baru. Adakan rapat dengan pengelola untuk mengulas dan memperbarui RK dan RAPB tahun berjalan, untuk kemudian hasilnya disepakati oleh perwakilan anggota dan disosialisasikan ke seluruh anggota. Setiap tahun koperasi harus memiliki yang namanya RK & RAPB, juga arah kebijakan dan strategi yang akan dieksekusi di tahun berjalan. Itulah rujukan bagi pengelola dalam menjalankan tugas operasionalnya sehari-hari.
Lalu bagaimana pengurus baru bisa merevisi RK-RAPB, padahal hal tersebut merupakan hal yang baru baru? Ya, kembali ke tips nomor 1: Belajar! Ada banyak keahlian di dunia ini, keahlian manajerial, keahlian memasak, keahlian bermusik dan lain-lain. Tiap orang punya keahliannya masing-masing. Tapi ada satu keahlian yang harus dimiliki setiap orang yang ingin sukses. Yaitu keahlian belajar. Pelajarilah bagaiamana menyusun dan merevisi RK-RAPB. Jika ada niat pasti ada jalan, jika tidak ada niat yang tersisa hanya alasan.

Kontributor: Rizki Ardi
Rabu, 02 September 2015

- Copyright © Konsultan Koperasi -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -