Selasa, 05 April 2016

Mungkin ada diantara praktisi koperasi yang bertanya, apa bedanya menjadi manajer di koperasi dan manajer di perusahaan swasta? Melalui tulisan ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Perbedaannya jelas, yang satu bekerja di koperasi, yang satu bekerja di perusahaan swasta, hehehe...

Oke serius, sebenarnya perbedaannya sangat mendasar antara seorang yang bekerja di koperasi dan seorang yang bekerja di perusahaan swasta. Perbedaan pertama adalah di “for whom you work for”, untuk siapa Anda bekerja! Di perusahaan swasta, Anda bekerja untuk siapa? Pemegang saham, lebih spesifiknya pemegang saham mayoritas atau owner. Owner itu siapa? Umumnya pemegang saham adalah orang-orang yang sudah kaya (tidak mungkin masyarakat biasa punya saham mayoritas). Jadi jika boleh digeneralisir. Anda yang bekerja di perusahaan swasta bekerja untuk orang kaya, membuat yang kaya semakin kaya, membuat pembagian kue perekonomian semakin timpang. Belum lagi jika owner itu ternyata dari bangsa asing, Anda turut serta melarikan uang Indonesia ke luar negeri. Terlalu berlebihan ya? Tapi kurang lebih itulah yang terjadi.

Lantas bagi Anda yang bekerja di koperasi, Anda bekerja untuk siapa? Bagi yang bekerja di koperasi karyawan, Anda bekerja untuk para karyawan, para buruh, sebagai pemilik dari koperasi. Mereka yang memang perekonomiannya masih pas-pasan. Bagi yang Anda bekerja di koperasi guru, Anda bekerja untuk para ‘pahlawan tanpa tanda jasa’; bagi Anda yang bekerja di koperasi pesantren, Anda bekerja bagi ‘para pengajar dan penuntut ilmu’; bagi Anda yang bekerja di koperasi nelayan, koperasi pertanian, koperasi masyarakat, Anda bekerja untuk common people, untuk orang-orang yang memang masih perlu untuk disejahterakan.

Menjadi manajer berarti mendedikasikan pikiran Anda, memeras otak untuk menghasilkan yang terbaik pihak yang telah mempekerjakan Anda. Pertanyaanya adalah, untuk siapa semua jerih payah tersebut? Untuk ‘rich people’ kah, atau untuk ‘common people’? Karenanya seorang manajer koperasi yang sadar akan perannya, sadar akan kelebihannya dibanding manajer-manajer lain yang bekerja di sektor swasta. Ia akan merasa bangga, meskipun secara materil ia cenderung dibayar dengan gaji yang lebih rendah dari rekan-rekan manajernya yang bekerja di perusahan swasta.

Bagi seorang manajer koperasi yang menyadari tugas mulianya, kekurangan dalam hal materi tersebut sangat sangat bisa dikompensasi dengan kepuasan batin. Bahwa ia telah bekerja bukan untuk dirinya, bukan hanya untuk keluarganya, juga untuk orang banyak. Bukankah rezeki yang baik itu bukan rezeki yang banyak, tetapi rezeki yang berkah dan cukup. Insyaallah dengan bekerja dalam rangka membantu meningkatkan kesejahteraan orang banyak, rezeki yang dihasilkan semakin berkah karena semakin banyak orang yang mendoakan.

Kepuasan bagi seorang manajer koperasi bukanlah tatkala ia mendapat gaji tinggi atau bonus besar, kepuasannya terletak ketika anggota merasa hidupnya menjadi lebih mudah dengan adanya koperasi, perekonomiannya menjadi terbantu dengan hadirnya koperasi. Senyum dan doa dari anggota koperasi yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan secara telak dapat mengalahkan kompensasi yang sifatnya materil belaka. Bagi Anda yang bekerja sebagai manajer koperasi, jika berhasil memajukan koperasi maka insyaallah anggota secara berjamaah berterima kasih dan mendoakan Anda. Bagi Anda yang bekerja sebagai manajer di sektor swasta, apakah Anda yakin jika Anda berhasil memajukan perusahaan, owner turut mendoakan Anda?

Semoga tulisan ini mampu membesarkan hati para manajer koperasi yang merasa under paid. Sesungguhnya menjadi bermanfaat bagi sesama itu lebih berharga dari gaji tinggi.

Rizki Ardi | Konsultan Koperasi

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Konsultan Koperasi -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -